Jakarta — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini memberi perhatian lebih besar terhadap deteksi dini penyakit lupus, terutama bagi perempuan berusia 18 tahun ke atas. Kelompok ini menjadi target utama program skrining yang dilakukan di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Sri Puji Wahyuni, menjelaskan bahwa fokus terhadap perempuan didasarkan pada hasil berbagai penelitian yang menunjukkan risiko lupus pada wanita jauh lebih tinggi dibandingkan pria.
“Karena angka kasus pada perempuan memang lebih tinggi, maka program skrining kami prioritaskan untuk perempuan usia 18 tahun ke atas,” kata Sri Puji pada Senin (11/5/2026).
Menurutnya, sejumlah studi memperlihatkan bahwa perempuan memiliki kemungkinan terkena lupus sekitar 8 hingga 13 kali lebih besar dibanding laki-laki.
Sampai April 2026, program skrining yang dijalankan di puskesmas telah menjangkau sekitar 943 orang dengan dugaan gejala lupus. Mereka kemudian mendapatkan tindak lanjut berupa rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Sementara itu, data BPJS Kesehatan menunjukkan tren peningkatan kasus lupus dari tahun ke tahun. Pada 2023 tercatat sebanyak 192.614 kasus, lalu meningkat sekitar 24 persen menjadi 238.954 kasus pada 2024. Jumlah tersebut kembali naik menjadi 247.743 kasus sepanjang 2025.
Sri Puji menilai kenaikan angka itu bisa dipengaruhi oleh semakin meningkatnya kemampuan tenaga kesehatan dalam mengenali lupus. Namun di sisi lain, peningkatan kasus juga menjadi sinyal bahwa upaya deteksi dini perlu terus diperkuat, khususnya di tingkat FKTP.
“Mungkin sekarang tenaga kesehatan sudah lebih mengenali lupus. Tetapi jumlah kasus juga terus bertambah, jadi pengetahuan dan kemampuan mendeteksi dini tetap harus ditingkatkan,” ujarnya.
Lupus sendiri merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan membedakan jaringan tubuh sendiri dengan zat asing, sehingga justru menyerang sel sehat.
Akibatnya, tubuh memproduksi autoantibodi secara berlebihan yang memicu peradangan dan kerusakan jaringan.
Sri Puji menambahkan bahwa lupus sering kali sulit dikenali karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik. Kondisi itu membuat lupus kerap disebut sebagai “penyakit seribu wajah”.
Karena itu, edukasi kepada masyarakat dinilai sangat penting agar gejala lupus bisa dikenali lebih awal. Selain masyarakat umum, tenaga kesehatan juga terus diberikan pembekalan, salah satunya melalui seminar daring, agar proses deteksi dini di FKTP menjadi lebih tepat sasaran, efektif, serta mengurangi risiko salah diagnosis maupun keterlambatan penanganan.












